BAB 1
LELAKI YANG TERLALU LAMA BELAJAR
Pagi itu, Deni duduk sendirian di sudut ruang kerjanya. Sebuah meja kayu berwarna cokelat tua berdiri di hadapannya, dipenuhi tumpukan buku, beberapa lembar dokumen sekolah, dan sebuah laptop yang layarnya telah lama menampilkan halaman kosong. Di sebelah kanan meja, rak buku memenuhi hampir seluruh dinding. Sebagian besar buku itu telah dibacanya, sebagian lainnya hanya sesekali dibuka ketika ia membutuhkan referensi untuk pekerjaan atau ketika pikirannya sedang ingin berkelana.
Di antara buku-buku itu terselip beberapa map berisi dokumen pendidikan, sertifikat pelatihan, dan ijazah yang selama bertahun-tahun ia kumpulkan dengan susah payah. Ada satu map yang selalu ia simpan dengan lebih hati-hati daripada yang lain. Di dalamnya terdapat ijazah magister yang dahulu berhasil ia raih melalui beasiswa pemerintah.
Dulu, ijazah itu menjadi salah satu kebanggaan terbesarnya.
Sekarang, sesekali ia memandangnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Bukan karena ia menyesali pendidikannya. Sama sekali bukan. Ia tetap percaya bahwa belajar adalah salah satu hal paling berharga yang dapat dilakukan manusia. Hanya saja, pada usianya yang hampir menginjak lima puluh tahun, ia mulai bertanya-tanya apakah selama ini ia telah terlalu sibuk mempersiapkan dirinya untuk menjadi orang berilmu, tetapi kurang mempersiapkan dirinya untuk menjalani kehidupan.
Pandangannya beralih ke jam dinding.
Pukul enam lewat dua puluh menit.
Sebentar lagi ia harus berangkat ke sekolah.
Deni menutup laptop, merapikan beberapa lembar kertas, lalu berdiri. Ketika hendak mengambil tasnya, pandangannya kembali tertuju pada rak buku itu.
Ia tersenyum tipis.
"Kalau semua buku ini bisa bicara," gumamnya, "mungkin mereka sudah menertawakanku."
Ia sendiri tidak tahu mengapa kalimat itu keluar dari mulutnya. Mungkin karena belakangan ini ia semakin sering melontarkan humor kepada dirinya sendiri. Mungkin juga karena ada hal-hal yang terasa terlalu menyakitkan jika harus diakui dengan serius.
Ia mengambil tas, mematikan lampu, kemudian meninggalkan ruangan.
Di luar, udara pagi masih menyisakan kesejukan malam. Jalanan mulai ramai oleh sepeda motor, anak-anak sekolah, dan orang-orang yang bergegas menuju tempat kerja. Beberapa pedagang membuka lapak. Dari kejauhan terdengar suara seseorang memanggil anaknya agar segera mandi.
Kehidupan berjalan sebagaimana mestinya.
Hanya saja, Deni merasa ada sesuatu dalam kehidupannya sendiri yang telah berhenti berjalan sejak beberapa waktu lalu.
Di sekolah, Deni kembali menjadi orang yang dikenal banyak orang.
"Assalamu'alaikum, Pak Deni!"
Seorang siswa menyapanya ketika ia baru saja turun dari sepeda motornya.
"Wa'alaikumussalam. Lho, kamu kok datang pagi sekali? Tumben."
Siswa itu tertawa kecil.
"Takut terlambat, Pak."
"Bagus. Pertahankan. Jangan sampai semangatmu hanya bertahan sampai hari Senin."
"Siap, Pak!"
Deni ikut tertawa.
Beberapa langkah kemudian, seorang guru menyapanya dan menanyakan dokumen yang harus disiapkan untuk kegiatan sekolah. Deni menjawab dengan cepat, menyebutkan bagian yang perlu diperbaiki, serta mengingatkan tenggat waktu yang telah disepakati.
Tidak lama kemudian, ia sudah terlibat dalam pembicaraan mengenai jadwal, program pembelajaran, dan persoalan kedisiplinan siswa.
Di tempat itu, Deni masih menjadi dirinya yang biasa: seorang guru yang berpengalaman, memiliki banyak gagasan, dan terbiasa memikirkan berbagai hal sekaligus.
Ia tahu bagaimana menyusun program. Ia tahu bagaimana mengarahkan orang lain. Ia tahu apa yang seharusnya dilakukan untuk memperbaiki proses pendidikan.
Namun, ketika seorang guru muda bertanya tentang kemungkinan mengembangkan program pelatihan berbayar untuk meningkatkan kompetensi guru, Deni hanya menjawab singkat.
"Bisa saja. Asal direncanakan dengan baik."
"Kalau Bapak sendiri, pernah mencoba membuat program seperti itu?"
Deni terdiam sejenak.
"Pernah terpikir," jawabnya kemudian.
"Kenapa tidak dicoba, Pak? Pengalaman Bapak sudah banyak. Materinya juga bisa dikembangkan."
Deni tersenyum.
"Iya. Nanti kita pikirkan."
Percakapan itu berakhir karena mereka harus kembali bekerja.
Akan tetapi, pertanyaan sederhana tersebut tertinggal di benaknya.
Pernah terpikir.
Nanti kita pikirkan.
Dua kalimat yang terlalu sering ia gunakan untuk sesuatu yang sebenarnya bisa mulai dikerjakan hari itu juga.
Ia tahu dirinya memiliki pengalaman. Ia tahu ia mampu menyusun materi pembelajaran, merancang program sekolah, dan membimbing guru lain. Namun, setiap kali membayangkan harus menawarkan keahliannya kepada orang lain, ada sesuatu yang membuatnya mundur.
Ia merasa tidak nyaman mempromosikan diri sendiri.
Baginya, orang yang benar-benar mampu seharusnya terlihat dari pekerjaannya. Jika hasil kerjanya baik, orang akan menilai sendiri. Jika ia memang dibutuhkan, orang akan datang menawarkan pekerjaan.
Bukankah selama ini demikian cara ia menjalani hidup?
Ia tidak pernah terlalu sibuk mencari jabatan. Ia juga tidak banyak berusaha membangun usaha sampingan. Ketika ada lembaga yang menawarkan pekerjaan, ia menerimanya. Ketika ada tanggung jawab tambahan, ia berusaha melaksanakannya. Ketika memperoleh kesempatan belajar, ia belajar sebaik mungkin.
Ia mengira semua itu akan membawa dirinya menuju kehidupan yang semakin baik.
Ternyata, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan cara yang ia bayangkan.
Menjelang siang, setelah menyelesaikan beberapa urusan sekolah, Deni duduk di sebuah bangku dekat ruang guru. Di tangannya terdapat segelas kopi yang telah kehilangan sebagian besar kehangatannya.
Seorang rekan kerjanya datang dan duduk di sebelahnya.
"Pak Deni, saya dengar Bapak dulu kuliah S2 dengan beasiswa pemerintah, ya?"
Deni menoleh.
"Iya. Sudah lama sekali."
"Wah, hebat, Pak. Saya saja masih berpikir bagaimana caranya melanjutkan kuliah."
Deni tersenyum kecil.
"Kalau ada kesempatan, ambil saja. Jangan takut mencoba."
"Berarti setelah S2, kesempatan kerja Bapak pasti lebih banyak, ya?"
Pertanyaan itu disampaikan dengan nada kagum, tanpa maksud menyinggung.
Namun, Deni justru memandang kopi di tangannya.
"Seharusnya begitu," jawabnya.
Rekan kerjanya tertawa ringan, mengira jawaban itu sekadar candaan.
"Ya, namanya juga pendidikan, Pak. Investasi masa depan."
"Iya. Investasi masa depan."
Deni mengulang kalimat itu perlahan.
Setelah rekannya pergi, ia tetap duduk di sana.
Ia teringat masa kuliahnya. Betapa besar semangatnya ketika pertama kali mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan. Ia merasa telah memenangkan sesuatu yang sangat berharga. Tidak semua orang memperoleh kesempatan seperti itu, terlebih dengan biaya yang ditanggung pemerintah.
Saat itu, ia tidak terlalu memikirkan uang.
Ia dibesarkan dalam keluarga yang relatif mampu. Ia tidak tumbuh dengan pengalaman menyaksikan orang tuanya harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan paling dasar. Baginya, pendidikan adalah jalan untuk memperluas pemahaman, bukan semata-mata alat untuk menaikkan penghasilan.
Ia tidak tertarik mengejar kekayaan dengan tergesa-gesa. Ia ingin belajar sebanyak mungkin, membaca sebanyak mungkin, dan memahami kehidupan dengan lebih baik.
Ia bahkan pernah berpikir bahwa orang yang sungguh-sungguh mencari ilmu pada akhirnya akan menemukan jalan hidupnya sendiri.
Bukankah orang berilmu akan dibutuhkan?
Bukankah pengetahuan akan membuka pintu kesempatan?
Bukankah selama seseorang bekerja dengan baik, kehidupan akan memberinya tempat yang pantas?
Pertanyaan-pertanyaan itu dahulu terasa begitu masuk akal.
Sekarang, ia tidak lagi yakin apakah semua jawabannya sesederhana yang ia bayangkan.
Deni menghabiskan kopinya, lalu berdiri. Ia tidak ingin terlalu lama larut dalam pikiran yang sama.
Ia masih memiliki pekerjaan.
Dan pekerjaan, setidaknya, adalah sesuatu yang masih bisa ia kendalikan.
Sore hari, setelah menyelesaikan tugas-tugasnya, Deni pulang.
Rumah yang ia masuki terasa lebih sunyi daripada biasanya. Ia meletakkan tas, mengganti pakaian, lalu duduk di ruang tengah. Di tempat itu, beberapa benda masih mengingatkannya pada kehidupan yang pernah ia jalani bersama keluarganya.
Ia memandang sebuah lemari kecil.
Di salah satu lacinya, masih tersimpan beberapa foto lama. Ia jarang membukanya, tetapi ia juga belum pernah benar-benar sanggup membuangnya.
Hari itu, entah mengapa, ia ingin melihatnya.
Ia menarik laci perlahan dan menemukan sebuah album foto. Sampulnya telah sedikit kusam. Beberapa lembar di bagian belakang bahkan mulai terlepas dari perekatnya.
Deni membukanya.
Foto pertama memperlihatkan dirinya ketika masih muda. Ia berdiri di samping seorang perempuan yang kelak menjadi istrinya. Mereka tampak sederhana, tetapi bahagia. Senyum mereka terlihat begitu mudah, seolah-olah dunia belum pernah memberi alasan untuk merasa takut.
Deni mengusap tepi foto itu dengan ibu jarinya.
"Dua puluh tahun," bisiknya.
Dua puluh tahun bukan hanya angka. Ada dua puluh tahun percakapan, pertengkaran, tawa, kesalahpahaman, kelahiran anak-anak, tagihan, rencana yang berhasil, rencana yang gagal, dan harapan yang perlahan berubah bentuk.
Ada masa ketika ia dan istrinya percaya bahwa selama mereka saling mencintai, semua persoalan akan dapat diatasi.
Namun, kehidupan mengajarkan bahwa cinta dan kemampuan menghadapi kehidupan adalah dua hal yang saling berkaitan, tetapi tidak selalu tumbuh dengan kecepatan yang sama.
Ia teringat perdebatan-perdebatan mereka tentang uang.
Pada awalnya, hanya persoalan kecil. Penghasilan yang belum cukup, kebutuhan anak-anak yang bertambah, keinginan memperbaiki rumah, serta rencana-rencana yang terpaksa ditunda.
Deni selalu berusaha menjelaskan bahwa ia sedang bekerja sebaik mungkin. Ia tidak malas. Ia tidak menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak berguna. Ia tidak tertarik melakukan sesuatu yang menurutnya melanggar prinsip.
Namun, semakin lama, penjelasan itu terdengar semakin tidak memadai.
Ia masih ingat sebuah percakapan yang pernah terjadi bertahun-tahun sebelumnya.
"Mas, sampai kapan kita begini terus?"
Deni yang baru pulang bekerja meletakkan tasnya di kursi.
"Maksudmu?"
"Ya, keadaan kita. Anak-anak semakin besar. Kebutuhan semakin banyak. Kita tidak mungkin terus mengandalkan penghasilan seperti sekarang."
"Aku juga tahu itu."
"Kalau tahu, lalu apa yang akan kamu lakukan?"
Deni terdiam sebentar sebelum menjawab.
"Aku bekerja. Aku berusaha. Aku tidak pernah berhenti mencari jalan."
Istrinya memandangnya dengan wajah lelah.
"Aku tidak bilang kamu tidak bekerja. Aku tahu kamu bekerja. Tapi aku juga ingin tahu, apakah kamu punya rencana supaya keadaan kita bisa berubah?"
"Aku sudah menjalankan tanggung jawabku."
"Aku tidak sedang membicarakan tanggung jawabmu saja, Mas. Aku sedang membicarakan masa depan kita."
Deni merasa dadanya mulai panas.
"Jadi, menurutmu selama ini aku tidak memikirkan masa depan keluarga?"
"Aku tidak bilang begitu."
"Tapi kamu selalu mempertanyakan apa yang kulakukan!"
"Aku mempertanyakan keadaan kita, bukan seluruh dirimu."
Percakapan itu berhenti tanpa penyelesaian yang benar-benar memuaskan. Masing-masing merasa telah menjelaskan sesuatu yang penting, tetapi tidak seorang pun merasa sungguh-sungguh didengar.
Deni menutup album foto.
Ia tahu bahwa ingatan dapat menipu. Ketika seseorang merindukan masa lalu, ia cenderung mengingat bagian-bagian yang menyenangkan. Ketika seseorang terluka, ia cenderung mengingat bagian-bagian yang menyakitkan.
Mungkin mantan istrinya pun memiliki ingatan yang berbeda tentang percakapan yang sama.
Mungkin perempuan itu juga pernah menangis diam-diam karena merasa lelah.
Mungkin ia pernah berharap Deni berubah, sebagaimana Deni pernah berharap istrinya memahami dirinya.
Dan mungkin, di antara semua keinginan yang tidak pernah benar-benar terpenuhi itu, mereka perlahan kehilangan kemampuan untuk berjalan ke arah yang sama.
Deni meletakkan album kembali ke dalam laci.
Ia tidak ingin menyalahkan mantan istrinya. Ia juga tidak ingin berpura-pura bahwa dirinya tidak memiliki kesalahan.
Tetapi mengakui kesalahan sendiri ternyata tidak selalu membuat rasa sakit menjadi lebih ringan.
Malam mulai turun.
Deni menunaikan salat, kemudian duduk cukup lama di atas sajadah. Ia berdoa sebagaimana biasanya, memohon agar Allah memberikan ketenangan, kesehatan, dan jalan keluar atas berbagai persoalan yang sedang dihadapinya.
Ia percaya bahwa tidak semua hal harus diselesaikan dengan kehendak manusia. Ada perkara yang berada di luar kemampuan seseorang, ada ujian yang tidak dapat dihindari, dan ada ketentuan yang baru dipahami maknanya setelah waktu berlalu.
Namun, malam itu ia juga mencoba bertanya kepada dirinya sendiri.
Apakah selama ini ia telah benar-benar berusaha?
Ataukah ia terlalu nyaman menyebut sesuatu sebagai takdir ketika sebenarnya masih ada pilihan yang belum berani ia ambil?
Pertanyaan itu membuatnya gelisah.
Ia teringat beberapa kesempatan yang pernah datang. Ada tawaran pekerjaan tambahan yang ia tolak karena merasa tidak ingin waktunya habis untuk urusan lain. Ada gagasan yang sempat ia susun, tetapi tidak pernah ia jalankan karena menunggu keadaan yang dianggap lebih tepat. Ada pula peluang untuk mengembangkan kemampuannya yang dibiarkan berlalu karena ia merasa tidak pandai menawarkan diri.
Dahulu, ia menganggap sikap itu sebagai bentuk kesederhanaan.
Ia tidak ingin menjadi orang yang terlalu mengejar dunia. Ia tidak ingin menjadikan uang sebagai ukuran keberhasilan. Ia ingin menjalani kehidupan dengan tenang, bekerja dengan baik, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan.
Semua itu masih menjadi prinsip yang ia hormati.
Tetapi apakah ia pernah mencampuradukkan kesederhanaan dengan keengganan untuk berkembang?
Apakah ia pernah mengira bahwa tidak mengejar kekayaan berarti tidak perlu merencanakan masa depan?
Apakah ia pernah terlalu sibuk menjaga dirinya agar tidak menjadi materialistis, sampai lupa bahwa keluarganya juga membutuhkan kehidupan yang layak?
Deni mengembuskan napas panjang.
Ia tidak menemukan jawaban malam itu.
Yang ia tahu, ia tidak ingin menjadi manusia yang menghabiskan sisa hidupnya hanya untuk membenarkan keputusan-keputusan masa lalu.
Tetapi ia juga belum tahu bagaimana cara memulai sesuatu yang berbeda.
Setelah salat, Deni menyalakan laptop kembali.
Ia membuka sebuah dokumen lama berisi rancangan program pelatihan guru yang pernah disusunnya. Di dalamnya terdapat beberapa materi tentang strategi pembelajaran, pengembangan kompetensi, dan pengelolaan kelas. Ia pernah mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, bahkan sempat membayangkan bahwa suatu hari materi itu dapat dikembangkan menjadi program pelatihan yang bermanfaat bagi banyak sekolah.
Namun, dokumen itu berhenti pada halaman terakhir yang berisi catatan-catatan kecil.
Tidak pernah ada tindak lanjut.
Deni membaca beberapa bagian, kemudian menggerakkan kursor ke halaman kosong.
Ia mengetik sebuah kalimat.
Rencana pengembangan program pelatihan guru.
Ia berhenti.
Kemudian ia menambahkan beberapa poin tentang materi, sasaran peserta, dan kemungkinan pelaksanaan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak langsung menutup dokumen itu ketika muncul pikiran bahwa pekerjaannya mungkin tidak akan menghasilkan apa-apa.
Ia mencoba menyelesaikan satu bagian terlebih dahulu.
Tidak ada yang istimewa. Tidak ada uang yang tiba-tiba masuk ke rekeningnya. Tidak ada seseorang yang menelepon untuk menawarkan pekerjaan besar. Bahkan tidak ada jaminan bahwa gagasan itu akan berjalan.
Namun, malam itu ia telah melakukan sesuatu yang selama ini sering ditundanya.
Ia memulai.
Setelah beberapa saat, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari salah seorang rekannya yang mengingatkan jadwal kegiatan sekolah keesokan hari.
Deni membalas singkat, lalu meletakkan ponselnya.
Ia kembali memandang layar laptop.
Tiba-tiba ia merasa bahwa mungkin selama ini ia terlalu sering menunggu kehidupan berubah, tanpa benar-benar menyadari bahwa sebagian perubahan justru harus dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang berada dalam kendalinya sendiri.
Ia tidak tahu apakah kesadaran itu datang terlambat.
Usianya hampir lima puluh tahun. Ia tidak lagi memiliki kemewahan untuk mengulang seluruh masa mudanya. Ia juga tidak dapat kembali memperbaiki setiap keputusan yang telah membawanya ke tempat ini.
Tetapi barangkali, selama seseorang masih mampu berpikir, belajar, dan bertindak, tidak semua pintu telah tertutup.
Deni menatap jam dinding.
Pukul sepuluh lewat tiga puluh menit.
Ia menutup laptop, merapikan meja, lalu berdiri.
Sebelum meninggalkan ruang kerjanya, ia menoleh sekali lagi ke arah rak buku.
Buku-buku itu tetap diam di tempatnya. Ijazah S2-nya tetap tersimpan di dalam map. Sertifikat-sertifikat itu tidak berubah.
Yang berubah hanyalah satu hal kecil dalam pikirannya.
Ia mulai memahami bahwa ilmu tidak hanya seharusnya membuat seseorang mengerti bagaimana dunia bekerja. Ilmu juga semestinya membantunya mengambil keputusan yang lebih baik dalam menjalani kehidupan.
Selama ini ia telah menghabiskan banyak waktu untuk belajar.
Mungkin sudah saatnya ia belajar sesuatu yang berbeda.
Bukan bagaimana menjadi lebih pandai.
Melainkan bagaimana menjalani hidup dengan lebih bijaksana.
Sebelum tidur, Deni mengambil ponselnya sekali lagi. Ia membuka media sosial, menggulir beberapa unggahan tanpa tujuan, lalu berhenti pada sebuah nama yang sudah lama tidak benar-benar ia perhatikan.
Lisa.
Ia pernah mendengar nama perempuan itu dalam percakapan orang lain, tetapi mereka belum pernah menjalin hubungan yang berarti. Tidak ada kisah lama di antara mereka. Tidak ada kenangan yang mengikat mereka. Bahkan, ia tidak yakin apakah Lisa masih mengingat siapa dirinya.
Deni memandang layar beberapa saat.
Ia tidak tahu mengapa nama itu membuatnya ingin berhenti menggulir layar.
Mungkin ia hanya ingin mengenal seseorang.
Mungkin ia ingin berbicara dengan orang yang tidak mengetahui seluruh kegagalannya, sehingga ia tidak harus selalu menjelaskan siapa dirinya dan bagaimana ia sampai pada keadaan sekarang.
Atau mungkin, setelah sekian lama menjalani kehidupan dengan banyak tanggung jawab dan sedikit ruang untuk dirinya sendiri, ia mulai merindukan percakapan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan.
Ia membuka kolom pesan.
Jarinya bergerak perlahan di atas layar.
"Hai, Lisa. Apa kabar?"
Ia membaca kalimat itu sekali lagi.
Sederhana. Terlalu sederhana, bahkan.
Namun, ia tidak menemukan kalimat lain yang terasa lebih tepat.
Deni menekan tombol kirim, kemudian meletakkan ponsel di atas meja.
Ia tidak menunggu balasan. Setidaknya, itulah yang ia katakan kepada dirinya sendiri.
Ia mematikan lampu kamar dan berbaring.
Di luar, malam semakin sunyi.
Deni belum mengetahui bahwa pesan itu kelak akan membawanya pada percakapan-percakapan yang tidak pernah ia rencanakan, pertemuan-pertemuan yang membuatnya kembali tersenyum, dan pertanyaan-pertanyaan yang akan memaksanya melihat dirinya sendiri dengan cara yang berbeda.
Ia juga belum mengetahui bahwa perempuan di balik nama itu menyimpan kesepian yang bentuknya tidak sama dengan kesepiannya.
Untuk malam itu, ia hanya seorang lelaki yang hampir berusia lima puluh tahun, dengan masa lalu yang tidak dapat diubah dan masa depan yang belum jelas.
Seorang lelaki yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk belajar.
Dan yang, tanpa ia sadari, baru saja memulai pelajaran yang paling sulit: belajar menerima dirinya sendiri, belajar memperbaiki kehidupannya, dan mungkin suatu hari nanti, belajar mencintai kembali.
Comments